![]() |
| habbatus-sauda-zahir.blogspot |
Riset ini meneliti 161 pasien yang semuanya menderita penyakit metabolisme, 115 pasien laki-laki dan 46 pasien perempuan menderita penyakit metabolisme sesuai dengan kriteria ATP III (The National Cholesterol Education Program's Adult Treatment Panel III). Usia penderita berkisar antara 20 hingga 70 tahun, dimana usia 40 hingga 60 tahun merupakan populasi terbesarnya.
Kriteria ATP III ini diidentifikasi sebagai penderita penyakit sindrom metabolik yang berisiko tinggi terkena stroke. Dalam hal ini pasien memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut:
- Obesitas abdominal yaitu lingkar perut > 102 cm pada laki-laki dan > 88 cm pada wanita
- Serum trigliserida > 150 mg%
- Serum HDL < 50 mg%
- Tekanan darah > 140/ 90 mmHg
- Kadar gula darah puasa > 110 mg%
- Hamil
- Diabetes melitus tipe 1
- Acute coronary syndromes and cerebrovascular accidents
- Impaired liver function test
- Pasien dengan penyakit gagal ginjal kronik
- Familial dyslipidemia
Pasien dikelompokkan menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama (disebut Grup Standart) diberikan standart terapi obat kimia (obat untuk hiperkolesterolemia, diabetes melitus tipe 2, obat hipertensi dan obat anti trombotik) terdiri dari:
- Atorvastatin 1 x 10 mg
- Metformin 2 x 500 mg
- Amlodipin 1 x 5 mg
- Atenolol 1 x 50 mg
- Aspirin 1 x 150 mg
Setelah 6 minggu didapatkan hasil yang mengagumkan yaitu:
- Kenaikan kadar HDL kolesterol (biasa disebut sebagai kolesterol baik) pada kedua grup, dimana Grup Nigella sativa naik lebih tinggi secara signifikan dibanding Grup Standart.
- Penurunan kadar LDL kolesterol (biasa disebut sebagai kolesterol jahat) pada kedua grup, dimana Grup Nigella sativa turun lebih rendah secara signifikan dibanding Grup Standart.
- Penurunan kadar kolesterol total terjjadi pada kedua grup dengan penurunan yang lebih rendah secara signifikan pada Grup Nigella sativa dibanding dengan Grup Standart.
Maka dapat disimpulkan bahwa pada pasien dengan penyakit metabolisme yang sudah mendapat terapi obat dari dokter, maka dapat menggunakan Habbatussauda sebagai terapi ajuvan (pendamping) untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, karena efek potensiasi Habbatussauda.
dr. Desie Dwi Wisudanti
Sumber:
- Habbatussauda Obat Segala Penyakit:: Kisah Nyata Seorang Dokter Meresepkan Habbatussauda untuk Kesembuhan Pasiennya, dr. Insan Agung Nugroho
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar